Jumat, 20 April 2012
INTERVENSI KELUARGA
A. DASAR-DASAR KONSELING KELUARGA
Pusat dari sistem interpersonal dalam tiap kehidupan seseorang adalah keluarga. Seorang bayi belajar bagaimana hidup dan menerima kehidupan itu melalui interaksinya dalam keluarga. Interaksi seseorang di masa depan memperlihatkan intensitas ikatan emosi dan kepercayaan dasar terhadap diri dan dunia luar yang dihasilkan pada interaksi awal dalam keluarga. Saat anak- anak tumbuh dan matang, mereka berubah dalam banyak hal dan keluarga pun berubah pula. Hal ini berlangsung selama perkembangan seseorang dalam rentang kehidupannya. Jika anak, remaja atau orang dewasa mengalami disfungsi psikologis, masalah ini mungkin berawal dari konflik yang tak terpecahkan dalam keluarga masa lalu. Misalnya suatu pasangan mungkin membawa anak mereka untuk konseling/terapi , hanya untuk menyatakan bahwa masalah mereka dengan anaknya hanyalah masalah sekunder dalam konflik perkawinannya. Hak ini mungkin kasus dimana anak terjebak di tengah-tengah diantara masalah kedua orang tuanya, yang dapat mengembangkan symptom- symptom seperti anxiety, tidak patuh atau gagal di sekolah, dimana hal ini menyebabkan tekanan terhadap situasi keluarga. Demikian juga halnya dengan klien dewasa, dimana mungkin berusaha menanggulangi perasaan depresinya, sebagai akibat dari konflik perkawinannya yang sangat mengganggu kepercayaan dirinya, dengan mengembangkan penghargaan diri yang besar.
Konseling keluarga didefenisikan sebagai suatu proses interaktif yang berupaya membantu keluarga memperoleh keseimbangan homeostasis, sehingga setiap anggota keluarga dapat merasa nyaman (comfortable).
Konselor/terapist bekerja berdasarkan beberapa asumsi, yaitu :
1) Manifestasi keluhan salah satu anggota keluarga tidak datang dari dirinya sendiri, tetapi sebagai hasil interaksinya dengan satu atau lebih anggota keluarga lainnya
2) Satu atau dua anggota keluarga mungkin saja menunjukkan perilaku yang well adjusted . gambaran ini menunjukkan bahwa “identified patient” tidak selalu berarti penderita.
3) Bila keluarga secara kontinu mengikuti terapi, maka ini berarti ada motivasi yang tinggi untuk menghasilkan kondisi homeostasis.
4) Relasi orang tua akan mempengaruhirelasi diantara seluruh anggota keluarga
B. PRINSIP-PRINSIP KONSELING KELUARGA
Secara garis besar, prinsip yang penting dalam pendekatan ini adalah :
1) Bukan metode baru untuk mengatasi human problem
2) Setiap anggota adalah sejajar, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain
3) Situasi saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnya yang harus diubah
4) Tidak perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga, karena hal ini hanya membuang waktu saja untuk ditelusuri
5) Selama intervensi berlangsung, konselor/terapist merupakan bagian penting dalam dinamika keluarga, jadi melibatkan dirinya sendiri
6) Konselor/terapist memberanikan anggota keluarga untuk mengutarakan dan berinteraksi dengan setiap anggota keluarga dan menjadi “intra family involved”
7) Relasi antara konselor/terapist merupakan hal yang sementara. Relasi yang permanen merupaklan penyelesaian yang buruk
8) Supervisi dilakukan secara riil/nyata (conselor/therapist center)
C. TIGA TEORI DINAMIKA KELUARGA
1. Teori Peran
Keluarga adalah suatu unit yang berfungsi sesuai atau tidak sesuai menurut tingkat persepsi peran dan interaksi di antara kinerja peran dari setiap anggotanya. Empat konsep yang merupakan dasar untuk mengerti kesehatan mental dan keluarga :
• Komplementaritas
• Pertukaran peran
• Konflik peran
• Kebalikan peran
Dengan menilai peran keluarga, konselor dapat mengerti dinamika keluarga dan dapat membimbing dengan intervensi yang saling sesuai untuk meningkatkan berfungsinya keluarga.
2. Teori Perkembangan
Keluarga yang berhasil, berfungsi dengan baik, bahagia, dan kuat tidak hanya seimbang, tetapi perhatian terhadap anggota keluarga yang lain, menggunakan waktu bersama-sama, memiliki pola komunikasi yang baik, memiliki tingkat orientasi yang tinggi terhadap agama, dan dapat menghadapi krisis dengan pola yang positif. Krisis dalam keluarga dapat lebih dimengerti, apabila tiap tahap perkembangan keluarga teliti, karena setiap tahap mempunyai permintaan peran, tanggung jawab, problem dan tantangan-tantangan sendiri-sendiri.
Tahapan perkembangan keluarga (Becvar, 1993 : 128-129)
a. Keluarga baru
b. Keluarga dengan anak
c. Keluarga dengan balita
d. Keluarga dengan anak sekolah
e. Keluarga dengan anak remaja
f. Keluarga sebagai pusat peluncuran
g. Keluarga tahun-tahun tengah
h. Pensiun
3. Teori Sistem
Beberapa asumsi mengenai keluarga :
a. Perubahan dan stress anggota keluarga berpengaruh terhadap seluruh keluarga
b. Keluarga memiliki pola interaksi
c. Simptom fisik dan psikososial berkaitan dengan pola interaksi keluarga
d. Ciri keluarga sehat adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap
e. Perubahan
f. Berbagi tanggung jawab bersama
g. Perilaku bermasalah harus dipecahkan, sebelum menganggu keharmonisan keluarga
Sistem keluarga yang disfungsional memiliki 2 dimensi, yang masing-masing memiliki 4 tingkatan, yaitu : Family Cohesion (keterikatan emosional), terdiri dari rigid, structured, flexible, dan kacau; dan Family adaptability (kemampuan penyesuaian terhadap perubahan), yang terdiri dario disengagede (lepas), separated (terpisah), connected (berhubungan), dan enmeshed (terlibat).
Bentuk system keluarga tersusun dalam model Circumplex (Olson, 1986). Dimana masing-masing bentuk merupakan hasil interaksi dari masing-masing tingkatan di antara keduia dimensi tersebut. bentuk-bentuk system keluarga tersebut akan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu : seimbang, campuran, dan tidak seimbang.
Konselor yang memberi intervensi keluarga, akan dapat meningkatkan kualitas interaksi anggota keluarga, struktur hubungan mereka, berfungsinya unit-unit keluarga, dan kemampuan keluarga menjadi sumber bagi penyesuaian hidup klien.
D. TUJUAN KONSELING KELUARGA
Secara umum, tujuan konseling keluarga/terapi adalah:
1) Membangun anggota keluarga untuk belajar dan secara emosional menghargai bahwa dinamika keluarga saling bertautan di antara anggota keluarga.
2) Membantu anggota keluarga agar sadar akan kenyataan bila anggota keluarga mengaami problem, maka ini mungkin merupakan dampak dari suatu atau lebih persepsi, harapan, dan interaksi dari anggota keluarga lainnya.
3) Bertindak terus menerus dalam konseling/terapi sampai dengan keseimbangan homeo statis dapat tercapai, yang akan menumbuhkan dan meningkatkan keutuhan keluarga.
4) Mengembangkan apresiasi keluarga terhadap dampak relasi parental terhadap anggota keluarga.
Secara khusus,konseling keluarga /terapi bertujuan untuk:
a. Membuat semua anggota keluara dapat mentoleransikan cara atau perilaku yang unik (idyosincratic) dari setiap anggota keluarga.
b. Menambah toleransi setiap anggota keluarga terhadap frustasi,ketika terjadi konflik dan kekecewaan, baik yang dialami bersama keluarga atau tidak bersama keluarga.
c. Meningkatkan motivasi setiap anggota keluarga agar mendukung, membesarkan hati, dan mengembangkan anggota lainnya.
d. Membantu mencapai persepsi parental yan realistis dan sesuai dengan persepsi anggota keluarga.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar