BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Asesmen merupakan sebuah proses pengumpulan informasi yang terus menerus berlangsung untuk mengukur performansi murid dan proses pembelajaran. Asesmen perkembangan dan belajar anak memiliki nilai penting. Tidak hanya mengukur kemajuan anak-anak sebagai bentuk evaluasi program, asesmen juga berguna untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan staf dan perencanaan pembelajaran di masa yang akan datang
Asesmen yang tepat berguna untuk membantu anak-anak berkembang secara optimal, baik fisik, sosial, emosional, intelektual maupun spiritual. Asesmen yang tepat juga dapat digunakan untuk mendeteksi keterlambatan-keterlambatan perkembangan atau kebutuhan-kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki anak-anak. Selain itu informasi yang akurat dari sebuah asesmen bermanfaat untuk peningkatan pembelajaran sehingga proses belajar anak-anak membaik dan sebagai informasi bagi para orangtua tentang kemajuan dan hal-hal terkait dengan belajar anak-anak mereka.
Asesmen yang tepat merupakan bagian penting dari program evaluasi dan perbaikan terus menerus kualitas program pendidikan yang sudah dirancang. Dalam program pendidikan yang berkualitas, pihak-pihak terkait dengan pendidikan anak menggunakan informasi dari berbagai macam sumber untuk merencanakan dan membuat keputusan-keputusan tentang anak-anak secara individual.
Prosedur-prosedur dan instrumen-instrumen (alat) asesmen—seperti test, observasi, portofolio, penilaian guru, penilaian orangtua, dan lain sebagainya—dikatakan efektif ketika mereka memenuhi standar validitas (tepat dan akurat), reliabilitas (keajegan), dan kepekaan terhadap isu-isu kultural. Instrument asesmen yang tepat memungkinkan jawaban-jawaban yang khas dari anak-anak menurut kelompok usia, jenis kelamin, latar belakang budaya, dan kondisi geografis. Anak-anak harus diukur secara individual oleh orang-orang yang mengetahui mereka dengan objektif dalam setting dan situasi-situasi yang mencerminkan penampilan mereka yang sesungguhnya. Semakin muda usia anak, maka akan semakin sulit untuk mendapatkan asesmen yang valid. Perkembangan anak-anak usia dini berlangsung sangat cepat dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman. Performansi mereka dalam tes dipengaruhi oleh kondisi-kondisi emosional anak dan kondisi-kondisi saat asesmen dilakukan.
B. Masalah
1. Apakah pengertian dari Asemen Pendidikan ?
2. Apakah fungsi, tujuan dan ruang lingkup Asesmen Pendidikan ?
3. Apakan langkah- langkah dari prosedur Asesmen ?
4. Apakah metode dari Asesmen ?
C. Tujuan
Asesmen merupakan proses pengumpulan informasi dan bertujuan membantu anak-anak berkembang secara optimal, baik fisik, sosial, emosional, intelektual maupun spiritual. Asesmen yang tepat juga dapat digunakan untuk mendeteksi keterlambatan-keterlambatan perkembangan atau kebutuhan-kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki anak-anak. Selain itu informasi yang akurat dari sebuah asesmen bermanfaat untuk peningkatan pembelajaran sehingga proses belajar anak-anak membaik dan sebagai informasi bagi para orangtua tentang kemajuan dan hal-hal terkait dengan belajar anak-anak mereka.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Assesment
Asesment berasal dari bahasa inggris To Assess (kk: menaksir); Assement (kb: taksiran). Istilah menaksir mengandung makna deskriptif atau mengambarkan sesuatu, sehingga sifat atau cara kerja asesmen sangat komprehensif. Artinya utuh dan menyeluruh. Lerner, (1988:54) mendefinisikan bahwa asesmen merupakan suatu proses pengumpulan informasi tentang seorang siswa yang akan digunakan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang berhubungan dengan pembelajaran siwa tersebut.
Menurut Robert M Smith (2002) menyebutkan Asesmen merupakan “Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.
Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis menyebutkan Asesmen merupakan “Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.
Lidz (2003) menyebutkan bahwa asesmen merupakan proses pengumpulan informasi untuk mendapatkan profil psikologis anak, yang meliputi gejala dan intensitasnya, kendala- kendala yang di alami, kelebihan dan kelemahannya, serta peran pendukung yang dibutuhkan anak. Tujuan asesmen adalah untuk melihat kondisi anak saat itu. Dalam rangka menyusun suatu program pembelajaran yang tepat sehingga dapat melakukan layanan pembelajaran secara tepat.
Dalam konteks bimbingan konseling, asesment yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan atau berlangsung. Asesment merupakan salah satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik konseling, kelompok, maupun konseling individual). Oleh karena itu, asesment dalam bimbingan dan konselin menjadi bagian yang terintegral dengan proses terapi maupun dengan semua kegiatan bimbingan/atau konseling itu sendiri. Asesmen dilakukan untuk menggali dinamika dan faktor penentu yang mendasari munculnya masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan asesmen dalam bibingan dan konseling yaitu mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi konselor untuk menentuan masalah dan memahami latar belakang, serta situasi yang ada pada masalak klien. Asesment yang dilakukan sebelum, selama dan setelah konseling berlangsung dapat memberi informasi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang di hadapi konsele. Dalam prakteknya, asesmen dapat digunakan sebagai alat untuk menilai keberhasilan sebuah konseling, tetapi dapat juga dapat digunakan sebagai sebuah terapi untuk menyelesaikan masalah konsele (klien).
Asesment merupakan kegiatan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan/kompetensi yang dimiliki oleh konsele dalam memecahkan masalah. Asesmen yang dikembangkan adalah asesmen yang baku dan meliputi beberapa aspek yaitu kognitif, apektif, psikomotor dalam kompetensi dengan mengunakan indikator-indikator yang di tetapkan dan dikembangkan oleh guru BK/ kelas/kenselor sekolah. Asesmen yang diberikan kepada konsele merupakan pengembangan dari area kompetensi dasar pada diri konsele yang akan di nilai,yang kemudian akan di jabarkan dalam bentuk indikator-indikator. Pada umumnya asesmen bimbingan konseling dapat di lakukan dalam bentuk laporan diri, performance test, tes psikologis, observasi, wawancara, dan sebagainya.
A. Fungsi, Tujuan dan Ruang lingkup Asesmen
Hood & Johnson (1993) menjelaskan ada beberapa fungsi asesmen,diantaranya adalah untuk:
1. Menstimulasi konsele maupun konselor mengenai berbagai
2. Isu permasalahan
3. Menjelaskan masalah secara obyektif
4. Memberi alternatif solusi untuk masalah
5. Menyediakan metode untuk dengan memperbandingkan
6. Alternatif sehingga dapat diambil keputusan
7. Evaluasi efektivitas konseling
Ruang lingkup dalam asesmen (assesment need areas) dalam bimbingan dan konseling ada lima,yaitu:
a) Systems assesment, yaitu asesmen yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai status dari suatu sistem,yang membedakan antara apa ini (what is it) dengan apa yang di inginkan what is desired) sesuai dengan dituliskan/ditetapkan atau outcome yang diharapkan dalam konseling.
b) Program planning, yaitu perencanaan program untuk memperoleh informasi-informasi yang dapat di gunakan untuk membuat keputusan dan untuk menyeleksi bagian-bagian program yang efektif dalam pertemuan-pertemuan antara konselor dengan konsele; untuk mengindentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus pada tahap pertama
c) Program implementation, yaitu bagaimana asesmen dilakukan untuk menilai pelaksanaan program dengan memberikan informasi-informasi nyata dan menjadikan program-program tersebut dapat dinilai apakah sesuai dengan pedoman.
d) Program improvement, asesmen dapat di gunakan dalam perbaikan program, yaitu yang berkenaan dengan; (a) evaluasi terhadap informasi-informasi yang nyata, (b) tujuan yang akan di capai dalam program, (c) program-program yang berhasil, (d) informasi-informasi yang mempengaruhi proses pelaksanaan program-program yang lain.
e) Program certification, yang merupakan akhir kegiata. Menurut Center for the Study of Evaluation (CSE). Program sertipikasi adalah suatu evaluasi sumatif. Hal ini memberikan makna bahwa pada akhir kegiatan akan di lakukan evaluasi akhir sebagai dasar untuk memberikan sertifikasi kepada konsele. Dalam hal ini asesor berfungsi pemberi informasi mengenai hasil evaluasi yang akan di gunakan sabagai dasar untuk mengambil keputusan.
Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa asesmen dalam bimbingan dan konseling konsmempunyai beberapa tujuan,yaitu:
1) Orientasi masalah, yaitu untuk membuat konsele mengenali dan menerima permasalahan yang dihadapinya,serta tidak mengingkarinya.
2) Identifikasi masalah, yaitu membantu konsele maupun konselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi konsele secara mendetail
3) Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh konsele
4) Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah yang paling menguntungkan dengan memperhatikan konsekuensi paling kecil dari beberapa alternatif tersebut
5) Verfikasi untuk menilai apakah konseling telah berjalan efektif dan mengurangi beban masalah konsele atau belum
B. Prosedur Asesmen
Data dalam asesmen hanya berarti jika dilihat bersamaan dengan data-data lain; yaitu perfomansi individu yang menjadi konsele, perfomansi kriteria yang di pakai untuk asesmen, atau norma yang di pakai untuk menentukan posisi konsele dibanding kriterianya. Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan asesmen:
1) Perencanaan
Aspek yang harus ada dalam perencanaan asesmen adalah: memilih fokus asesmen pada aspek tertentu dari diri konsele. Salah satu penentu keberhasilan konseling adalah kemauan dan kemampuan konsele itu sendiri. Dalam konseling keputusan akhir untuk pemecahan masalah yang di hadapi ada pada diri konsele. Konselor /guru BK/guru kelas bukan pemberi nasehat,bukan pengambil keputusanmengenai apa yang harus di lakukan konsele dalam memecahkan masalah yang di hadapinya.
(a) Memilih instrumen yang akan digunakan. Banyak instrumen yang dapat di gunakan dalam asesmen seperti tes psikologis, observasi, inventori, dan sebagainya. Namun menentukan insrumen sangat tergantung pada aspek apa yang akan diasesmen. Misalnya melihat kerjasama konsele dalam konseling, maka instrumen dapat mengunakan checklist, tetapi apabila anda memfokuskan asesmen tentang kemampuan konsele dalam memecahkan masalah, maka anda dapat mempergunakan tes psikologis.
(b) Penetapan waktu perencanaan. Waktu yang di maksud adalah kapan asesmen akan di lakukan. Penetapan waktu ini sangat erat berhubungan dengan persiapan pelaksanaan asesmen. Persiapan akan banyak menentukan keberhasilan suatu asesmen, misalnya menyiapkan instrumen, tempat dan peralatan lain yang di perlukan dalam pelaksanaan asesmen. Apalagi jika pelaksanaan asesmen tersebut bukan guru BK/ guru kelas itu sendiri, karena instrumen yang di gunakan adalah tes psikologis(tes intelegensi, inventori kepribadian,tes minat jabatan,dan sebagainya). Dalam hal ini apabila guru BK/ guru kelas tifak memiliki kewenangan, maka guru BK/ guru kelas dapat minta bantuan orang yang memiliki kewenangan, misalnya psikolog atau orang yang telah memiliki sertifikasi yang memberikan kewenangan untuk mengadministrasikan tes dimaksud.
(c) Validitas dan reliabilitas. Apabila instrumen yang digunakan adalah buatan sendiri atau dikembangkan sendiri, maka instrumen itu perlu diuji validitas dan reliabilitasnya yang menjadi syarat muntlak suatu instrumen asesmen. Namun apabila kita mengunakan instrumen yang sudah berstandar, tidak perlu mencari validitas dan reliabilitas karena instrumen tersebut sudah jelas memenuhi persyaratan sebagai suatu insrume.
2) Pelaksanaan
Setelah perencanaan asesmen selesai, selanjutnya adalah bagaimana melaksanakan rencana yang telah dibuat tersebut.
Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam melaksanakan asesmen adalah harus sesuai dengan manual masing-masing instrumen. Manual suatu instrumen biasanya memuat: (i) cara mengerjakan, (ii) waktu yang digunakan untuk mengerjakan asesmen, (iii) kunci jawaban, (iv) cara analisis, dan (v) interpretasi.
3) Analisis data
Langkah selanjutnya adalah analisis data, yaitu melakukan analisis terhadap data yang di peroleh melalui instrumen yang digunakan untuk mengambil data analisis dilakukan dengan mengikuti petunjuk yang ada dalam manual masing-masing instrumen. Metode analisis data dalam asesmen konseling sangat tergantung data yang di peroleh. Misal data yang diperoleh berbentuk kualitatif atau data kuantitatif.
4) Interpretasi data
interpretasi diartikan sebagai upaya mengatur dan menilai fakta, menafsirkan pandangan, dan merumuskan kesimpulan yang mendukung. Penafsiran harus dirumuskan dengan hati-hati,jujur, dan terbuka.
5) Tindak lanjut
Tindak lanjut adalah menindak lanjuti hasil asesmen atau pengunaan hasil asesmen dalam konseling. Beberapa kegiatan tindak lanjut di antaranya adalah apakah konsele perlu melakukan konseling yang memfokuskan pada aspek yang berbeda lainya, apakah konsele perlu mendapatkan treatmen, atau konsele perlu mendapatkan rujukan(refferal) kepada pihak ketiga.
C. Metode asesmen
Pengumpulan informasi untuk asesmen berbasis individu dapat dilakukan secara resmi/formal, dan tidak resmi/formal. Secara resmi mislanya , individu di panggil untuk melakukan wawancara konseling dengan konselor, atau guru BK/ guru kelas meminta individu melakukan tes misalnya konsele mengerjakan kegiatan-kegiatan yang sengaja dibuat untuk melaksanakan hasil keputusan dalam konseling. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan penilaian dengan mengunakan metode pengamatan/observasi, pencatatan, dan pengumpulan hasil kegiatan konsele.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar